Dalam khazanan kesusatraan satra lisan seperti peribahasa tentunya memiliki sebuah hubungan sejarah yang cukup panjang dengan sebuah masyarakat itu sendiri. Peribahasa tidak lepas dari pengaruh nilai moral yang terkandung dalam sebuah tatanan masyarakat yang beragam dan agama kepercayaan yang dianut. Nilai-nilai yang beragam tersebut tentunya mewarnai perkembangan peribahasa khususnya di Lampung.

Di Lampung peribahasa lebih dikenal dengan istilah Sesikun/Sekiman yang memiliki arti kiasan atau semua bahasa berkias. Sesikun/Sekiman pada umumnya berfungsi untuk memberikan sebuah nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan, atau pemanis dalam berbahasa. Sesikun/Sekiman terdiri dari beberapa kata dengan susunan tetap dan mengandung nilai dasar dalam berperilaku.

Berikut ini dalah beberapa contoh Sesikun/Sekiman

“Di kedo biduk teminding, di san wai tenimbo.” Artinya yaitu, pandai-pandailah membawa diri, bersikaplah sesuai dengan adat-istiadat setempat.

“Dang happuk di kemutik, beguno ki gayah.” Artinya yaitu, jangan meremehkan orang yang tidak punya atau orang bodoh; siapa tahu dalam keadaan tertentu justru mereka yang bisa membantu.

Penulis : Dwi Surya Ananda

About the author

AdminLampunggeh

Leave a Comment