Bagi penggemar film produksi Walt Disney mungkin pernah menonton film berjudul Operation Dumbo Drop, sebuah film tentang pengiriman seekor gajah melewati daerah musuh oleh militer AS dengan latar belakang perang Vietnam. Di Indonesia pun ada operasi yang mirip seperti itu, namanya Operasi Ganesha. Berawal pada suatu hari di tahun 1982, ratusan gajah masuk dan terperangkap di dalam perkampungan transmigran Air Sugihan, Sumatera Selatan yang sebelumnya merupakan habitat gajah Sumatera. Kabar tersebut sampai ke Presiden Soeharto melalui Emil Salim, Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup saat itu.


Puluhan tentara berencana menembak ratusan gajah itu yang kemudian setelah dihitung berjumlah 242 ekor, namun Presiden Soeharto memerintahkan Brigjen Try Sutrisno sebagai panglima Kodam IV Sriwijaya saat itu untuk tidak melakukan penembakan melainkan memindahkan kawanan gajah tersebut ke tempat lain. Operasi yang terkesan “gila” ini pun dijalankan. Tim yang terdiri 400 orang ini bernama Satuan Tugas Operasi Ganesha yang dipimpin Letkol I Gusti Kompyang (IGK) Manila,seorang perwira POM/Polisi Militer “alumni” operasi Dwikora. Tugas mereka memindahkan kawanan gajah itu dari Air Sugihan ke Lebong Hitam, Lampung, sejauh 70 kilometer.


Rute pemindahan ini medannya cukup berat dan diawali dengan pembuatan jalur beserta pagar pembatas untuk dilewati kawanan gajah. Satgas ganesha sendiri terdiri dari beberapa team seperti tim kesehatan, angkutan, teritorial, penerangan, logistic, komunikasi, penggiring, zeni, pengamanan personil, evaluasi dan terakhir team udara yaitu team yang dilengkapi dengan helikopter untuk membantu team penggiring. Sebuah komposisi satuan tugas lengkap yang membuat kagum pers asing yang ikut meliput nya karena dibentuk bukan untuk operasi militer melainkan operasi penyelamatan hewan gajah.

Ratusan gajah maupun anggota team harus melewati rawa, hutan, serta sungai yang amat lebar. ”Mereka itu berbaris teratur. Yang betina di depan dan di samping rombongan. Di bagian tengah berkumpul semua anak gajah dan di belakang berbaris gajah jantan. Sungguh luar biasa, mereka seperti manusia,” kata Emil Salim yang sempat ikut menggiring dengan berjalan kaki berkilo-kilometer jauh ya ikut bersama tim penggiring.

Letkol IGK Manila bahkan menceritakan tentang seekor induk gajah yang menggendong anaknya masuk ke air. Sang induk masuk duluan ke air lalu mendekatkan punggungnya ke tepian di mana kemudian anaknya naik ke punggung induknya.Ketika menyeberang hanya terlihat setengah badan dari anak gajah karena setengah badannya berada di dalam air dan ketika sampai di seberang, induk gajah merendahkan badan agar anaknya dapat turun dengan sendirinya.

Dimulai tanggal 15 November dengan persiapan kurang lebih satu tahun dan berakhir pada tanggal 22 Desember 1982 di mana seluruh kawanan gajah itu tiba di kawasan Lebong Hitam, banyak dari anggota satgas Ganesha yang menitikkan air mata. Lebih dari 44 hari mereka menemani hewan-hewan tersebut yang ternyata bisa akrab dan jinak bersama mereka.Untuk kedua kalinya mereka menangis lagi saat diberi penghargaan langsung oleh Presiden Soeharto di Bina Graha, Jakarta. Rasa kemanusiaan ditujukan kepada mahluk Tuhan seperti gajah-gajah ini,walaupun mereka hewan tapi mereka sudah langka di negeri kita ini. Karena itu pemerintah ingin melestarikan dengan melindungi dan memberi jaminan hak hidup di wilayah yang baik, kata presiden Suharto. “Mereka yang biasa memegang senapan ternyata bisa menangis. Gajah telah memanusiakan manusia,” ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, mengenang operasi Ganesha.

Referensi :

  • Mongabay.co.id
  • sains.kompas.com
  • Operasi Ganesha,Bukti Nyata Kemanunggalan Abri-Rakyat; Zahakir Haris;penerbit alumni; 1998.

About the author

AdminLampunggeh

Leave a Comment